Besok, genap dua bulan usia Rakha. Makin hari,makin banyak celotehan yang keluar dari mulutnya. Ga heran, soalnya sudah dari umur 1,5 bulan dia mulai belajar berceloteh. Aooo...akheeenng.. Malah, sekarang dia makin ekpresif. Ketawanya juga udah terbahak-bahak, padahal baru mau masuk dua bulan. Alhamdulillah..Rakha tumbuh dengan sehat. Badannya makin montok. Waktu dia 41 hari, beratnya 4,7kg. Sekarang kayaknya sudah lebih dari 5kg. Berat, aku jadi ga kuat gendong Rakha lama-lama. Ga kebayang deh gimana nanti kalau dia makin besar, masa minta digendongin Ayahnya terus?
Anakku, Rakha Iqram Taufiq, menjadi kado terindah untuk aku dan Indra. He completed our journey as a family.. Kehadirannya juga membuatku makin bersyukur padaNya. Rasanya, Dia sangat sayang dan percaya padaku. Padahal, selama hidup di tahun-tahun kemaren, hihihi, aku begajulan banget. Waktu hamil, aku juga masih sering jahil sama orang lain, suka gosip, ngomongin orang, ngeledek temen sendiri, pecicilan. Wah, sampai-sampai ada temen yang bilang kalau harusnya aku lebih menjaga sikap waktu hamil. Ternyata susah ya untuk jadi orang bener, wong udah dasarnya suka cengengesan gini. Tapi, kuatir juga kalau-kalau sikapku yang mungkin ga ngenakin orang bisa berakibat buruk untuk Rakha. Dalam tiap doaku cuma ada harapan semoga anak yang kulahirin nanti selamat, sehat, dan sempurna. Kekuatiran itu makin jadi menjelang detik kelahirannya. Apalagi, di minggu terakhir kehamilanku, posisi Rakha terlihat sungsang. Kepalanya naik lagi ke perut bagian atas. Deg, tambah kuatir aja rasanya.. Padahal dari awal kehamilan sampe beberapa hari sebelum usg terakhir, posisi Rakha masih pas dengan kepala di bawah. Dokter Sawitri yang memeriksaku aja sampe kaget. "Lho Bu, koq kepalanya naik? Anaknya aktif banget ya?" Iya, Rakha sejak dalam kandungan memang aktif. Gerak sana..gerak sini..
Karena posisi sungsang itu, aku kemungkinan besar akan melahirkan Rakha dengan operasi caesar, bukan normal. Dokter minta aku untuk merencanakan tanggal kelahiran dan ga perlu nunggu kontraksi. Tapi aku masih mau berusaha supaya posisinya bisa baik lagi dan aku melahirkan normal. Jadi, kuminta dokter untuk minta waktu seminggu. Kalaupun harus lahir dengan caesar, kuputuskan untuk tetap menunggu proses alamiahnya, kontraksi dan pecah ketuban. Sementara menunggu, aku juga terus berusaha nungging setiap ada waktu. Sehari, bisa 4-5 kali nungging. HAhahahaa, jadi dipanggil Mrs Nonggeng deh waktu itu.
Meski udah berusaha, mungkin Rakha terlalu sayang sama bundanya jadi ga mau balik lagi ke posisi awal. Dia ga mau bundanya merasa kesakitan waktu melahirkan. Akhirnya, Rakha tetap lahir secara caesar. Dia minta dilahirkan tepat pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus jam 00.45.
Prosesnya cukup singkat, aku mulai merasa kontraksi pada 16 Agustus jam 4 sore. Kupikir, cuma kontraksi biasa jadi aku ajak suamiku untuk jalan-jalan supaya sakitnya ga terasa. Lihat calon rumah kami di Jatiwaringin. Pulangnya, aku dan Indra juga sempat makan dulu di Carrefour. Waktu jalan-jalan itu, rasa sakitnya ga begitu terasa lagi. Jam 8 malam, aku minta Indra untuk membuatkan mi instan. Rasanya pingin ngunyah yang segar-segar. Setelah kenyang, tiba-tiba aku merasa ada darah yang keluar. Ups, udah waktunya ke rumah sakit ni...
Di rumah sakit, semua keluargaku datang. Ibu mertuaku juga ikut menemani. Setiap detik, aku mencoba berkomunikasi dengan bayiku. Mengajaknya berdoa dan berjuang sama-sama supaya aku dan bayiku bisa melewati operasi dengan selamat. Menjelang masuk kamar operasi, Indra mencium kening dan menyemangatiku. Saat itu, Indra terlihat kuatir banget. Baru itu aku melihat matanya yang biasanya tajam terlihat teduh, "tenang Ayah, bunda sama Rakha akan berjuang sama-sama koq."
Oeeek...oekkkk...tak henti-hentinya kuucap syukur waktu tangisannya hadir di tengah kamar operasi. Alhamdulillah, anakku selamat, sehat, dan sempurna. Saking terharunya, bisa juga aku menitikkan air mata. Seandainya Ayah ada di ruang ini, pasti kebahagiaanku akan lebih lengkap. Tapi gapapa, kasian Ayah kalau harus masuk ruang operasi. Kalau lahir normal sih ga masalah.. Yang penting, bayi dan bundanya melalui proses kelahiran dengan selamat.
Setelah proses melahirkan itu, aku memasuki babak baru sebagai seorang ibu. RS Hermina Jatinegara, tempatku melahirkan, menerapkan sistem rooming in untuk ibu yang ingin menyusui bayinya secara ekslusif. Rooming in maksudnya bayi ga ditaruh di ruang bayi, tapi di kamar bersama bundanya selama hampir 24 jam. Selain rooming in, RS Hermina juga melarang suami menunggu kalau malam. Alhasil, setelah jam 10 malem, aku cuma sama Rakha di kamar rumah sakit. Malam pertama kulalui dengan beraaaat sekali. Rakha ga rewel, tapi kalau aku pindah dia ke boks tidurnya pasti bangun lagi. Ditambah, perutku hasil operasi masih terasa nyeri untuk bergerak. Akhirnya, sepanjang malam itu Rakha tidur dalam gendonganku. Rasanya pegaaaaaaal sekali. Belum lagi kalau aku ganti popoknya, aku selalu panggil suster karena belum bisa ngebedong Rakha dengan benar, sementara tangisan Rakha sudah kemana-mana. Tapi, malam kedua dan ketiga mulai bisa kunikmati. Rakha cuma bangun sesekali, ga sepanjang malam. Dan, tetap tidur waktu aku pindah ke boksnya. Tapi, masih belum terampil ngebedong. Binguuung...Di hari terakhirku di RS, aku merasa seperti mau pulang dari ospek. Cuma bedanya, kalau ospek bisa pulang dan langsung istirahat..tapi ospek yang ini, "ospek"nya ikut dibawa pulang juga. Heheheee
Kini, hampir dua bulan aku resmi menjadi bunda. Semua urusan Rakha udah aku kerjain sendiri. Mulai dari bangun pagi, mandi, gendong, nidurin, bedong, pijet bayi, alhamdulillah sudah mulai ahli. Rakha juga sudah makin pintar, ga sering nangis dan senyuuuum terus. Aku juga makin bersyukur kalau melihat dia tidur, mukanya damai dan lucu banget. Ga kebayang, aku bisa punya anak, bisa ngerawat bayi, & bisa juga jadi ibu..Tapi, semua juga bisa aku lalui karena semangat dari Hubby, ayahnya Rakha. Perhatiannya, kemauannya nemenin aku waktu nidurin Rakha kalau malam, dia juga selalu buatin susu untuk diminum tengah malam. Ayah juga selalu bawain jus buah supaya ASInya Rakha makin segar, bawain makanan, pokoknya bisa membantu bunda ngatasin baby blues deh..Makasih, Ayah
No comments:
Post a Comment