Rakha is real an angel in my life..Kehadirannya bisa membuat rumahku tersenyum, memberi kehangatan dan kebahagiaan yang sempat terlupa, dan yang paling penting memperbaiki hubungan bunda sama eyang. Yup, he surely do!
Untukku pribadi, Rakha bisa merubahku menjadi seseorang yang lebih rajin dan pengertian. Rajin bangun pagi, mandi pagi, makan pagi, hehheehe.. sebelumnya, semua itu jarang dilakukan. Kecuali, kalo ada kerjaan pagi tentunya. Aku juga banyak belajar sabar, berusaha menjadi lebih pintar, dan bicara dengan intonasi yang lebih lembut dari biasanya.
Di tengah keluarga ayah, Rakha bisa menjadi perantara antara aku dengan anggota keluarga lain, mendekatkanku dengan mereka. Selain itu, sekarang suasana rumah terasa lebih ramai. Banyak celotehan yang keluar dari bibir mungilnya, semua orang pun jadi hobi bernyanyi.
Sedangkan, di tengah keluargaku sendiri, Rakha bisa memperbaiki hubunganku dengan mama, eyangnya Rakha. Eyang jadi lebih sering ada dirumah, membuat makanan yang lezat dan bergizi, serta perhatian sama keluarga.
Nak, semoga hingga kau besar nanti, kau bisa menjadi pelita untuk orang-orang di sekitarmu.
Meet me, Im a newly mom. This is my story of being a working wife but hopes to be a good mom and wife. Follow my journey
Saturday, October 31, 2009
Tuesday, October 27, 2009
Seminggu Menjelang Kerja
Seminggu lagi, aku mulai masuk kerja. Libur tiga bulan rasanya cepat banget berlalu. Beberapa persiapan menjelang kerja sudah aku siapkan, terutama untuk memenuhi kebutuhan ASI Rakha. Meski sudah kerja, aku ingin Rakha tetap mendapat ASI eksklusif, tanpa dibantu susu tambahan. Untuk itu,sudah dua minggu terakhir aku mulai memeras ASI dan kumpulkan stok ASI sebanyak mungkin di rumah. Rakha juga pelan-pelan kubiasakan mikcu dari sendok. Sengaja aku ga pake dot, supaya jagoan kecilku tidak bingung puting & tetap mau mikcu ke bundanya kalau ada kesempatan.
Sedih rasanya harus meninggalkan dia. Di rumah sih banyak yang siap mengasuh, ada oma-opa,tante, dan mbanya. Tapi tetap saja aku merasa pengasuhanku still the best for him. Gayanyaaaa...
Selama 2,5 bulan ini, dimana ada aku pasti ada Rakha. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, aku ga pernah lepas dari dia. Nanti kalau sudah mulai bekerja, apa rasanya ya? Pasti aku akan sangat kehilangan celotehannya yang makin hari makin lucu itu. Kosa katanya tiap hari makin bertambah, meski kita cuma bisa menebak apa artinya. Tapi, semakin terlihat kalau selain berenang, Rakha hobi sekali ngobrol dan bercerita. Dia juga sudah bisa mengikuti bundanya bernyanyi,ngaji, dan sholat bareng ayahnya. Hiks...hiks...aku pasti kehilangan momen-momen bahagianya.
Sekedar untuk berbagi, menjelang "perpisahan"ku sama Rakha, aku jadi semakin memanjakannya. Makin dekap memeluknya, sering bermain dan ngobrol dengannya meski sudah tengah malam. Dan setiap Rakha mau tidur, ga lupa aku bisikkan di telinganya "Ayah dan Bunda sayaaaang sama Rakha". Semua aku lakukan untuk mempererat ikatan batin (bonding) antara Rakha dan bundanya. Jadi, kalau aku kerja nanti Rakha bisa merasa dekat denganku. To me, he's really an angel.
Sedih rasanya harus meninggalkan dia. Di rumah sih banyak yang siap mengasuh, ada oma-opa,tante, dan mbanya. Tapi tetap saja aku merasa pengasuhanku still the best for him. Gayanyaaaa...
Selama 2,5 bulan ini, dimana ada aku pasti ada Rakha. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, aku ga pernah lepas dari dia. Nanti kalau sudah mulai bekerja, apa rasanya ya? Pasti aku akan sangat kehilangan celotehannya yang makin hari makin lucu itu. Kosa katanya tiap hari makin bertambah, meski kita cuma bisa menebak apa artinya. Tapi, semakin terlihat kalau selain berenang, Rakha hobi sekali ngobrol dan bercerita. Dia juga sudah bisa mengikuti bundanya bernyanyi,ngaji, dan sholat bareng ayahnya. Hiks...hiks...aku pasti kehilangan momen-momen bahagianya.
Sekedar untuk berbagi, menjelang "perpisahan"ku sama Rakha, aku jadi semakin memanjakannya. Makin dekap memeluknya, sering bermain dan ngobrol dengannya meski sudah tengah malam. Dan setiap Rakha mau tidur, ga lupa aku bisikkan di telinganya "Ayah dan Bunda sayaaaang sama Rakha". Semua aku lakukan untuk mempererat ikatan batin (bonding) antara Rakha dan bundanya. Jadi, kalau aku kerja nanti Rakha bisa merasa dekat denganku. To me, he's really an angel.
Saturday, October 17, 2009
Lagu Kesayangan Rakha, "Kelinciku"
Kelinciku..kelinciku..
Kau lucu sekali
Melompat kian kemari
Sepanjang hari
Aku ingin menemani
Sepulang sekolah
Bermain bersama
Berlari-lari
*Rakha paling suka kalau dinyanyiin lagu "Kelinciku", plus digerak-gerakin tangan dan kakinya ikutin lagu itu.Mulutnya ga berhenti ngoceh, ikut nyanyi sama ayah & bundanya. Juga ga ketinggalan tawanya. Nyanyi lagi yuk,sayang...
Kau lucu sekali
Melompat kian kemari
Sepanjang hari
Aku ingin menemani
Sepulang sekolah
Bermain bersama
Berlari-lari
*Rakha paling suka kalau dinyanyiin lagu "Kelinciku", plus digerak-gerakin tangan dan kakinya ikutin lagu itu.Mulutnya ga berhenti ngoceh, ikut nyanyi sama ayah & bundanya. Juga ga ketinggalan tawanya. Nyanyi lagi yuk,sayang...
Thursday, October 15, 2009
Anakku Rakha
Besok, genap dua bulan usia Rakha. Makin hari,makin banyak celotehan yang keluar dari mulutnya. Ga heran, soalnya sudah dari umur 1,5 bulan dia mulai belajar berceloteh. Aooo...akheeenng.. Malah, sekarang dia makin ekpresif. Ketawanya juga udah terbahak-bahak, padahal baru mau masuk dua bulan. Alhamdulillah..Rakha tumbuh dengan sehat. Badannya makin montok. Waktu dia 41 hari, beratnya 4,7kg. Sekarang kayaknya sudah lebih dari 5kg. Berat, aku jadi ga kuat gendong Rakha lama-lama. Ga kebayang deh gimana nanti kalau dia makin besar, masa minta digendongin Ayahnya terus?
Anakku, Rakha Iqram Taufiq, menjadi kado terindah untuk aku dan Indra. He completed our journey as a family.. Kehadirannya juga membuatku makin bersyukur padaNya. Rasanya, Dia sangat sayang dan percaya padaku. Padahal, selama hidup di tahun-tahun kemaren, hihihi, aku begajulan banget. Waktu hamil, aku juga masih sering jahil sama orang lain, suka gosip, ngomongin orang, ngeledek temen sendiri, pecicilan. Wah, sampai-sampai ada temen yang bilang kalau harusnya aku lebih menjaga sikap waktu hamil. Ternyata susah ya untuk jadi orang bener, wong udah dasarnya suka cengengesan gini. Tapi, kuatir juga kalau-kalau sikapku yang mungkin ga ngenakin orang bisa berakibat buruk untuk Rakha. Dalam tiap doaku cuma ada harapan semoga anak yang kulahirin nanti selamat, sehat, dan sempurna. Kekuatiran itu makin jadi menjelang detik kelahirannya. Apalagi, di minggu terakhir kehamilanku, posisi Rakha terlihat sungsang. Kepalanya naik lagi ke perut bagian atas. Deg, tambah kuatir aja rasanya.. Padahal dari awal kehamilan sampe beberapa hari sebelum usg terakhir, posisi Rakha masih pas dengan kepala di bawah. Dokter Sawitri yang memeriksaku aja sampe kaget. "Lho Bu, koq kepalanya naik? Anaknya aktif banget ya?" Iya, Rakha sejak dalam kandungan memang aktif. Gerak sana..gerak sini..
Karena posisi sungsang itu, aku kemungkinan besar akan melahirkan Rakha dengan operasi caesar, bukan normal. Dokter minta aku untuk merencanakan tanggal kelahiran dan ga perlu nunggu kontraksi. Tapi aku masih mau berusaha supaya posisinya bisa baik lagi dan aku melahirkan normal. Jadi, kuminta dokter untuk minta waktu seminggu. Kalaupun harus lahir dengan caesar, kuputuskan untuk tetap menunggu proses alamiahnya, kontraksi dan pecah ketuban. Sementara menunggu, aku juga terus berusaha nungging setiap ada waktu. Sehari, bisa 4-5 kali nungging. HAhahahaa, jadi dipanggil Mrs Nonggeng deh waktu itu.
Meski udah berusaha, mungkin Rakha terlalu sayang sama bundanya jadi ga mau balik lagi ke posisi awal. Dia ga mau bundanya merasa kesakitan waktu melahirkan. Akhirnya, Rakha tetap lahir secara caesar. Dia minta dilahirkan tepat pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus jam 00.45.
Prosesnya cukup singkat, aku mulai merasa kontraksi pada 16 Agustus jam 4 sore. Kupikir, cuma kontraksi biasa jadi aku ajak suamiku untuk jalan-jalan supaya sakitnya ga terasa. Lihat calon rumah kami di Jatiwaringin. Pulangnya, aku dan Indra juga sempat makan dulu di Carrefour. Waktu jalan-jalan itu, rasa sakitnya ga begitu terasa lagi. Jam 8 malam, aku minta Indra untuk membuatkan mi instan. Rasanya pingin ngunyah yang segar-segar. Setelah kenyang, tiba-tiba aku merasa ada darah yang keluar. Ups, udah waktunya ke rumah sakit ni...
Di rumah sakit, semua keluargaku datang. Ibu mertuaku juga ikut menemani. Setiap detik, aku mencoba berkomunikasi dengan bayiku. Mengajaknya berdoa dan berjuang sama-sama supaya aku dan bayiku bisa melewati operasi dengan selamat. Menjelang masuk kamar operasi, Indra mencium kening dan menyemangatiku. Saat itu, Indra terlihat kuatir banget. Baru itu aku melihat matanya yang biasanya tajam terlihat teduh, "tenang Ayah, bunda sama Rakha akan berjuang sama-sama koq."
Oeeek...oekkkk...tak henti-hentinya kuucap syukur waktu tangisannya hadir di tengah kamar operasi. Alhamdulillah, anakku selamat, sehat, dan sempurna. Saking terharunya, bisa juga aku menitikkan air mata. Seandainya Ayah ada di ruang ini, pasti kebahagiaanku akan lebih lengkap. Tapi gapapa, kasian Ayah kalau harus masuk ruang operasi. Kalau lahir normal sih ga masalah.. Yang penting, bayi dan bundanya melalui proses kelahiran dengan selamat.
Setelah proses melahirkan itu, aku memasuki babak baru sebagai seorang ibu. RS Hermina Jatinegara, tempatku melahirkan, menerapkan sistem rooming in untuk ibu yang ingin menyusui bayinya secara ekslusif. Rooming in maksudnya bayi ga ditaruh di ruang bayi, tapi di kamar bersama bundanya selama hampir 24 jam. Selain rooming in, RS Hermina juga melarang suami menunggu kalau malam. Alhasil, setelah jam 10 malem, aku cuma sama Rakha di kamar rumah sakit. Malam pertama kulalui dengan beraaaat sekali. Rakha ga rewel, tapi kalau aku pindah dia ke boks tidurnya pasti bangun lagi. Ditambah, perutku hasil operasi masih terasa nyeri untuk bergerak. Akhirnya, sepanjang malam itu Rakha tidur dalam gendonganku. Rasanya pegaaaaaaal sekali. Belum lagi kalau aku ganti popoknya, aku selalu panggil suster karena belum bisa ngebedong Rakha dengan benar, sementara tangisan Rakha sudah kemana-mana. Tapi, malam kedua dan ketiga mulai bisa kunikmati. Rakha cuma bangun sesekali, ga sepanjang malam. Dan, tetap tidur waktu aku pindah ke boksnya. Tapi, masih belum terampil ngebedong. Binguuung...Di hari terakhirku di RS, aku merasa seperti mau pulang dari ospek. Cuma bedanya, kalau ospek bisa pulang dan langsung istirahat..tapi ospek yang ini, "ospek"nya ikut dibawa pulang juga. Heheheee
Kini, hampir dua bulan aku resmi menjadi bunda. Semua urusan Rakha udah aku kerjain sendiri. Mulai dari bangun pagi, mandi, gendong, nidurin, bedong, pijet bayi, alhamdulillah sudah mulai ahli. Rakha juga sudah makin pintar, ga sering nangis dan senyuuuum terus. Aku juga makin bersyukur kalau melihat dia tidur, mukanya damai dan lucu banget. Ga kebayang, aku bisa punya anak, bisa ngerawat bayi, & bisa juga jadi ibu..Tapi, semua juga bisa aku lalui karena semangat dari Hubby, ayahnya Rakha. Perhatiannya, kemauannya nemenin aku waktu nidurin Rakha kalau malam, dia juga selalu buatin susu untuk diminum tengah malam. Ayah juga selalu bawain jus buah supaya ASInya Rakha makin segar, bawain makanan, pokoknya bisa membantu bunda ngatasin baby blues deh..Makasih, Ayah
Subscribe to:
Posts (Atom)