Tuesday, December 8, 2009

Big Change In My Life

Makin lama, keluarga kecilku makin terasa berarti. Hari-hari terasa ga lengkap kalau ga melihat abang & Rakha saat ku terbangun. Ternyata begini ya, rasanya berkeluarga.

Saat pergantian tahun lalu, aku merayakannya bersama suami baruku tercinta. Tahun ini, aku akan merayakannya bersama suami dan anak pertamaku.Benar-benar perubahan drastis dalam waktu singkat! Padahal, sebelum menikah sama abang, aku ga pernah terpikir akan merasakan perubahan dalam waktu sesingkat ini...

Sebelum menikah, terus terang yang terlintas adalah hidup bersama orang yang kusayang. Jalani hidup berdua, dalam susah, sedih. Rencanakan beli ini, itu, nyicil ini, itu..Ga berniat menunda momongan sih, tapi ga terpikir kalau perubahan akan datang secepat ini dan rasanya (pun) sebahagia ini.

Dalam waktu dua tahun, aku sudah mengalami perubahan teramat besar dalam hidup. Menikah dan punya anak. Ternyata rasanyaaaa..wow, amazing!

Hmmm...menjelang pergantian tahun 2010-2011, apa lagi yang akan kualami ya? Mudah-mudahan perubahan membahagiakan. Hidup mandiri, mungkin?

Friday, November 27, 2009


Banyak momen yang sudah terlewati.. 8 November lalu, aku dan abang merayakan hari jadi yang pertama. What a great moment last year, a moment that really change our life. Ga ada yang spesial waktu itu, pulang kantor mau bikin acara bertiga sama Rakha, jalanan malah super duper macet. Walhasil, sampe rumah udah cape, malem, Rakha juga udah waktunya tidur. Tapi, aku percaya..hati kita ga berubah meski hari jadi itu tak dirayakan.

Selama setahun, apa yang sudah terjadi? Hmm.. nice question. Yang pasti, aku jadi lihat sisi negatifnya yang selama pacaran ga terlihat. Bukan hanya dari sisi abang, tapi juga dari lingkungannya. Tapi, banyak juga sifat positifnya yang membuatku makin bangga sama hubby.

Sayangnya, masih banyak hal yang belum bisa dimaklumi sama orang-orang sekitar kita.. Contohnya, aku jadi sedikit jauh sama keluargaku karena ga punya banyak waktu berkumpul sama mereka lagi. Ya, sebagai istri aku merasa kewajibanku sekarang lebih berat untuk keluarga kecilku. Terkadang, prinsip ini yang sulit ddimengerti sama keluargaku. Mereka menuntut aku menjadi seperti aku yang dulu aasih hidup sendiri.. Padahal, dulu aja aku super sibuk. Setiap libur, selalu ada acara. Sekarang, di hari libur aku harus membagi diri untuk keluarga kecilku, keluarga Bekasi, teman, dan diriku sendiri. Susahnyaaaa....

Tapi kadang, jarang pulang ke rumah juga membuatku sedih. Kangen berkumpul sama-sama seperti dulu. Apalagi sekarang sudah ada Rakha... Setiap kali berkumpul, rasanya seneng banget. Kalau jenuh sedang melanda, rasanya pengeeeeeeeeeeeen pulang. Sedih banget.. Ya, tapi harus diikhlasin ya, semuanya.

Hmm, tanggal 17 November kemarin, Rakha juga pas masuk umur 3 bulan lho. Jagoan kecilku itu makin pintar aja dari hari ke hari. Tepat di hari jadinya, dia mulai bisa tengkurep sendiri. Sebelumnya, dia baru bisa miring dan harus dibantu untuk menengkurepkan badannya.

Jadinya, anakku sekarang punya hobi baru, tengkurep! Ya,selain ngobrol dan ngoceh ga karuan..hihihi... Setiap bangun tidur, dia tidak menanngis, tapi langsung tengkurep. Habis mandi, setelah mik, dalam setiap kesempatan, tengkurep jaadi jurus andalannya. Tidurnya pun sekarang sudah bervariasi, ga hanya terlentang, tapi juga tidur miring.

Alhamdulillah...padahal, kata orang-orang, bayi baru bisa tengkurep sendiri umur 4 bulan.

Sekarang Rakha juga lebih suka duduk dipangku, ga bisa digendong lagi kecuali waktu dia mau tidur.

Duh, anakku sayang... Cepat besar ya

Thursday, November 5, 2009

Bunda Kerja Dulu Ya..

Minggu ini kumulai bekerja lagi, setelah masa cuti 3 bulan. Hari pertama, Rabu 4 November 2009,kujalani dengan sedikit rasa cemas. Masalahnya, baru kali itu aku meninggalkan Rakha. Untung, dirumah banyak yang siap membantu dan menjaga Rakha. ASI peras juga sudah ready stock, tinggal diproses penyajiannya saja.

Hari itu, katanya Rakha tidak rewel. Banyak tidur. Miknya pun lancar dan bisa disuap menggunakan sendok. Waktu aku pulang jam 5 sore, dia sedang tertidur pulas.

Hari kedua, 5 November 2009, Rakha sedikit rewel dan tidurnya sebentar. Bukan karena minta mik, tapi dia yang sedang hobi menghisap tangannya selalu marah kalau dilarang. Akhirnya, keluar ajian empeng..Hehehe, anakku hari itu jadi anak empeng. Karena tidurnya cuma sebentar, miknya jadi lebih banyak dari biasanya.

Ini adalah hari ketigaku bekerja. Tadi pagi, rutinitas Rakha berhasil aku jalani dengan baik. Bangun tidur mik dulu. Kemudian, aku pijit sambil menunggu air mandinya siap. Setelah aku mandikan, Rakha mik lagi sampai kenyang dan tertidur pulas. Baru deh, aku berangkat..

Waktu bekerja, ga lupa aku siapkan alat pompa dan termos es. Jadi siangnya, aku tetap bisa memeras ASIku untuk diminum Rakha esoknya. Lumayan, biasanya satu hari itu bisa terkumpul 130-150cc. Merasnya, di nursery room salah satu pusat perbelanjaan, heheheheee...

Kalau sudah pulang kerja atau saat libur, Rakha tetap mik sama bundanya.

Mudah-mudahan Rakha tumbuh dengan baik ya meski memakai ASI peras... Bunda sama ayah kerja dulu ya, Sayang

Saturday, October 31, 2009

He Surely Our Angel

Rakha is real an angel in my life..Kehadirannya bisa membuat rumahku tersenyum, memberi kehangatan dan kebahagiaan yang sempat terlupa, dan yang paling penting memperbaiki hubungan bunda sama eyang. Yup, he surely do!

Untukku pribadi, Rakha bisa merubahku menjadi seseorang yang lebih rajin dan pengertian. Rajin bangun pagi, mandi pagi, makan pagi, hehheehe.. sebelumnya, semua itu jarang dilakukan. Kecuali, kalo ada kerjaan pagi tentunya. Aku juga banyak belajar sabar, berusaha menjadi lebih pintar, dan bicara dengan intonasi yang lebih lembut dari biasanya.

Di tengah keluarga ayah, Rakha bisa menjadi perantara antara aku dengan anggota keluarga lain, mendekatkanku dengan mereka. Selain itu, sekarang suasana rumah terasa lebih ramai. Banyak celotehan yang keluar dari bibir mungilnya, semua orang pun jadi hobi bernyanyi.

Sedangkan, di tengah keluargaku sendiri, Rakha bisa memperbaiki hubunganku dengan mama, eyangnya Rakha. Eyang jadi lebih sering ada dirumah, membuat makanan yang lezat dan bergizi, serta perhatian sama keluarga.

Nak, semoga hingga kau besar nanti, kau bisa menjadi pelita untuk orang-orang di sekitarmu.

Tuesday, October 27, 2009

Seminggu Menjelang Kerja

Seminggu lagi, aku mulai masuk kerja. Libur tiga bulan rasanya cepat banget berlalu. Beberapa persiapan menjelang kerja sudah aku siapkan, terutama untuk memenuhi kebutuhan ASI Rakha. Meski sudah kerja, aku ingin Rakha tetap mendapat ASI eksklusif, tanpa dibantu susu tambahan. Untuk itu,sudah dua minggu terakhir aku mulai memeras ASI dan kumpulkan stok ASI sebanyak mungkin di rumah. Rakha juga pelan-pelan kubiasakan mikcu dari sendok. Sengaja aku ga pake dot, supaya jagoan kecilku tidak bingung puting & tetap mau mikcu ke bundanya kalau ada kesempatan.

Sedih rasanya harus meninggalkan dia. Di rumah sih banyak yang siap mengasuh, ada oma-opa,tante, dan mbanya. Tapi tetap saja aku merasa pengasuhanku still the best for him. Gayanyaaaa...

Selama 2,5 bulan ini, dimana ada aku pasti ada Rakha. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, aku ga pernah lepas dari dia. Nanti kalau sudah mulai bekerja, apa rasanya ya? Pasti aku akan sangat kehilangan celotehannya yang makin hari makin lucu itu. Kosa katanya tiap hari makin bertambah, meski kita cuma bisa menebak apa artinya. Tapi, semakin terlihat kalau selain berenang, Rakha hobi sekali ngobrol dan bercerita. Dia juga sudah bisa mengikuti bundanya bernyanyi,ngaji, dan sholat bareng ayahnya. Hiks...hiks...aku pasti kehilangan momen-momen bahagianya.

Sekedar untuk berbagi, menjelang "perpisahan"ku sama Rakha, aku jadi semakin memanjakannya. Makin dekap memeluknya, sering bermain dan ngobrol dengannya meski sudah tengah malam. Dan setiap Rakha mau tidur, ga lupa aku bisikkan di telinganya "Ayah dan Bunda sayaaaang sama Rakha". Semua aku lakukan untuk mempererat ikatan batin (bonding) antara Rakha dan bundanya. Jadi, kalau aku kerja nanti Rakha bisa merasa dekat denganku. To me, he's really an angel.

Saturday, October 17, 2009

Lagu Kesayangan Rakha, "Kelinciku"

Kelinciku..kelinciku..
Kau lucu sekali
Melompat kian kemari
Sepanjang hari

Aku ingin menemani
Sepulang sekolah
Bermain bersama
Berlari-lari

*Rakha paling suka kalau dinyanyiin lagu "Kelinciku", plus digerak-gerakin tangan dan kakinya ikutin lagu itu.Mulutnya ga berhenti ngoceh, ikut nyanyi sama ayah & bundanya. Juga ga ketinggalan tawanya. Nyanyi lagi yuk,sayang...

Thursday, October 15, 2009

Anakku Rakha

Besok, genap dua bulan usia Rakha. Makin hari,makin banyak celotehan yang keluar dari mulutnya. Ga heran, soalnya sudah dari umur 1,5 bulan dia mulai belajar berceloteh. Aooo...akheeenng.. Malah, sekarang dia makin ekpresif. Ketawanya juga udah terbahak-bahak, padahal baru mau masuk dua bulan. Alhamdulillah..Rakha tumbuh dengan sehat. Badannya makin montok. Waktu dia 41 hari, beratnya 4,7kg. Sekarang kayaknya sudah lebih dari 5kg. Berat, aku jadi ga kuat gendong Rakha lama-lama. Ga kebayang deh gimana nanti kalau dia makin besar, masa minta digendongin Ayahnya terus?
Anakku, Rakha Iqram Taufiq, menjadi kado terindah untuk aku dan Indra. He completed our journey as a family.. Kehadirannya juga membuatku makin bersyukur padaNya. Rasanya, Dia sangat sayang dan percaya padaku. Padahal, selama hidup di tahun-tahun kemaren, hihihi, aku begajulan banget. Waktu hamil, aku juga masih sering jahil sama orang lain, suka gosip, ngomongin orang, ngeledek temen sendiri, pecicilan. Wah, sampai-sampai ada temen yang bilang kalau harusnya aku lebih menjaga sikap waktu hamil. Ternyata susah ya untuk jadi orang bener, wong udah dasarnya suka cengengesan gini. Tapi, kuatir juga kalau-kalau sikapku yang mungkin ga ngenakin orang bisa berakibat buruk untuk Rakha. Dalam tiap doaku cuma ada harapan semoga anak yang kulahirin nanti selamat, sehat, dan sempurna. Kekuatiran itu makin jadi menjelang detik kelahirannya. Apalagi, di minggu terakhir kehamilanku, posisi Rakha terlihat sungsang. Kepalanya naik lagi ke perut bagian atas. Deg, tambah kuatir aja rasanya.. Padahal dari awal kehamilan sampe beberapa hari sebelum usg terakhir, posisi Rakha masih pas dengan kepala di bawah. Dokter Sawitri yang memeriksaku aja sampe kaget. "Lho Bu, koq kepalanya naik? Anaknya aktif banget ya?" Iya, Rakha sejak dalam kandungan memang aktif. Gerak sana..gerak sini..
Karena posisi sungsang itu, aku kemungkinan besar akan melahirkan Rakha dengan operasi caesar, bukan normal. Dokter minta aku untuk merencanakan tanggal kelahiran dan ga perlu nunggu kontraksi. Tapi aku masih mau berusaha supaya posisinya bisa baik lagi dan aku melahirkan normal. Jadi, kuminta dokter untuk minta waktu seminggu. Kalaupun harus lahir dengan caesar, kuputuskan untuk tetap menunggu proses alamiahnya, kontraksi dan pecah ketuban. Sementara menunggu, aku juga terus berusaha nungging setiap ada waktu. Sehari, bisa 4-5 kali nungging. HAhahahaa, jadi dipanggil Mrs Nonggeng deh waktu itu.
Meski udah berusaha, mungkin Rakha terlalu sayang sama bundanya jadi ga mau balik lagi ke posisi awal. Dia ga mau bundanya merasa kesakitan waktu melahirkan. Akhirnya, Rakha tetap lahir secara caesar. Dia minta dilahirkan tepat pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus jam 00.45.
Prosesnya cukup singkat, aku mulai merasa kontraksi pada 16 Agustus jam 4 sore. Kupikir, cuma kontraksi biasa jadi aku ajak suamiku untuk jalan-jalan supaya sakitnya ga terasa. Lihat calon rumah kami di Jatiwaringin. Pulangnya, aku dan Indra juga sempat makan dulu di Carrefour. Waktu jalan-jalan itu, rasa sakitnya ga begitu terasa lagi. Jam 8 malam, aku minta Indra untuk membuatkan mi instan. Rasanya pingin ngunyah yang segar-segar. Setelah kenyang, tiba-tiba aku merasa ada darah yang keluar. Ups, udah waktunya ke rumah sakit ni...
Di rumah sakit, semua keluargaku datang. Ibu mertuaku juga ikut menemani. Setiap detik, aku mencoba berkomunikasi dengan bayiku. Mengajaknya berdoa dan berjuang sama-sama supaya aku dan bayiku bisa melewati operasi dengan selamat. Menjelang masuk kamar operasi, Indra mencium kening dan menyemangatiku. Saat itu, Indra terlihat kuatir banget. Baru itu aku melihat matanya yang biasanya tajam terlihat teduh, "tenang Ayah, bunda sama Rakha akan berjuang sama-sama koq."
Oeeek...oekkkk...tak henti-hentinya kuucap syukur waktu tangisannya hadir di tengah kamar operasi. Alhamdulillah, anakku selamat, sehat, dan sempurna. Saking terharunya, bisa juga aku menitikkan air mata. Seandainya Ayah ada di ruang ini, pasti kebahagiaanku akan lebih lengkap. Tapi gapapa, kasian Ayah kalau harus masuk ruang operasi. Kalau lahir normal sih ga masalah.. Yang penting, bayi dan bundanya melalui proses kelahiran dengan selamat.
Setelah proses melahirkan itu, aku memasuki babak baru sebagai seorang ibu. RS Hermina Jatinegara, tempatku melahirkan, menerapkan sistem rooming in untuk ibu yang ingin menyusui bayinya secara ekslusif. Rooming in maksudnya bayi ga ditaruh di ruang bayi, tapi di kamar bersama bundanya selama hampir 24 jam. Selain rooming in, RS Hermina juga melarang suami menunggu kalau malam. Alhasil, setelah jam 10 malem, aku cuma sama Rakha di kamar rumah sakit. Malam pertama kulalui dengan beraaaat sekali. Rakha ga rewel, tapi kalau aku pindah dia ke boks tidurnya pasti bangun lagi. Ditambah, perutku hasil operasi masih terasa nyeri untuk bergerak. Akhirnya, sepanjang malam itu Rakha tidur dalam gendonganku. Rasanya pegaaaaaaal sekali. Belum lagi kalau aku ganti popoknya, aku selalu panggil suster karena belum bisa ngebedong Rakha dengan benar, sementara tangisan Rakha sudah kemana-mana. Tapi, malam kedua dan ketiga mulai bisa kunikmati. Rakha cuma bangun sesekali, ga sepanjang malam. Dan, tetap tidur waktu aku pindah ke boksnya. Tapi, masih belum terampil ngebedong. Binguuung...Di hari terakhirku di RS, aku merasa seperti mau pulang dari ospek. Cuma bedanya, kalau ospek bisa pulang dan langsung istirahat..tapi ospek yang ini, "ospek"nya ikut dibawa pulang juga. Heheheee
Kini, hampir dua bulan aku resmi menjadi bunda. Semua urusan Rakha udah aku kerjain sendiri. Mulai dari bangun pagi, mandi, gendong, nidurin, bedong, pijet bayi, alhamdulillah sudah mulai ahli. Rakha juga sudah makin pintar, ga sering nangis dan senyuuuum terus. Aku juga makin bersyukur kalau melihat dia tidur, mukanya damai dan lucu banget. Ga kebayang, aku bisa punya anak, bisa ngerawat bayi, & bisa juga jadi ibu..Tapi, semua juga bisa aku lalui karena semangat dari Hubby, ayahnya Rakha. Perhatiannya, kemauannya nemenin aku waktu nidurin Rakha kalau malam, dia juga selalu buatin susu untuk diminum tengah malam. Ayah juga selalu bawain jus buah supaya ASInya Rakha makin segar, bawain makanan, pokoknya bisa membantu bunda ngatasin baby blues deh..Makasih, Ayah

Saturday, August 29, 2009

Anakku Rakha Ikram Taufiq

Alhamdulillah..

Anak lelakiku akhirnya lahir dengan selamat, 17 Agustus 2009 lalu. Jam 00.45 wib, seperti tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Dengan berat badan 3 kg dan panjang 48 cm, anakku lahir dengan sangat sempurna untukku.

Alhamdulillah, Kau telah beri satu lagi cahaya dalam hidupku.. Satu titipan terindah yang menjadi tanggung jawabku.

Dan, kunamakan malaikat kecil ini Rakha Ikram Taufiq. Semoga, Rakha bisa tumbuh menjadi anak yang berahlak mulia, berguna, dan hidup bahagia sepanjang umurnya. Putera lelakiku, Nerisa dan Indra.

Friday, August 14, 2009

Shocking News

Dalam satu sesi konsultasi dr kandungan, ternyata posisi kepala babyku ke atas lagi. Bayangin, setelah sebelum-sebelumnya ga ada kendala apapun untuk lahir normal, tiba-tiba di minggu ke-38 dia memilih naik, keluar dari rumah kepalanya saat itu, mulut rahim. Quite shocking, karena itu berarti kemungkinan besar kelahiran bayi kecilku akan lewat operasi caesar, bukan kelahiran spontan. Mengejutkan.. karena ga gampang untuk mengembalikan posisi kepalanya untuk kebawah lagi pada usia 38 minggu, detik-detik menjelang kelahiran.

Awalnya, segala teknik nonggeng aku lakukan untuk mengembalikan posisi si kecil. Berdoa dan merayu si kecil yang lagi pecicilan ini, supaya mau kembali lagi ke bawah. Tapi lama-lama, kayaknya ini juga jalan dari proses kehamilanku. Mungkin, caesar akan menjadi jalan yang terbaik buat ibu dan bayi. Selama ini, kondisi kehamilannya kan baik-baik aja, ga ada kendala apa-apa. Dan, kalau di minggu terakhir malah membalik, mungkin itu jalan yang udah diaturNya.

Dan, akhirnya.. tetap berusaha, berdoa, dan ngajak ngobrol si kecil. Tapi, tidak memberi perintah untuk turun ke tempat yang seharusnya. Kalau dia mau melalui jalur operasi, rasanya seru juga... Ya, coba belajar demokratis dari dalam kandungan. huehehhee... Yang jelas, dia belajar pecicilan kan dari bundanya juga.

De, nanti kalau kamu sudah besar minta maaf sama bunda yaaaaa. Bunda sayang kamu :D

Tuesday, August 11, 2009

Bersiap Menggelindingkan Bola

Sebentar lagi, "bola" yang udah dibawa selama 37 minggu terakhir ini akan keluar. Alhamdulillah karena memang sudah waktunya.
Sekarang, ga lagi menghitung trimester atau bulan, tapi minggu...malah bisa jadi hari..
Prediksi dokter sih antara tanggal 19-24 Agustus, tapi bisa jadi lebih cepat. Atau lebih lambat.

Sebentar lagi...
Yang pasti ada rasa was-was, gimana ya rasanya melahirkan nanti? Yakin bisa sih, insyaallah, tapi seberapa sakitnya ya? Semakin nanya sama orang kiri kanan, smakin penasaran. Tapi, juga makin khawatir. Belum lagi kalau berpikir setelah melahirkan, berarti masuk tahap baru sebagai seorang ibu. Yup, not longer as a newly wife... Semua yang ga pernah dibayangkan sebelumnya harus mulai dijalani sepenuh hati dan bener-bener!

Tapi, makin penasaran. "Kapan sih ni lahirnya, lama banget.." huahahaa, jadi bikin makin jengah. Semakin cepat lahir berarti makin cepat bola itu bisa mulai menggelinding. Makin cepat belajar gimana caranya mengoper bola dengan baik, mengarahkan, dan memasukkannya ke sasaran. Ga cuma bisa membayangkan dan tanya sana sini aja.

Minggu ini, si kecil juga mulai merasa kalo bundanya khawatir. Sering tegang dan jadi malu-malu bergerak. Lebih diem, ga seaktif biasanya. "Maaf ya de, bunda bikin kamu ga nyaman. Bunda coba untuk ga khawatir de, membayangkan nanti kalau kamu udah lahir ke dunia. Ketemu orang-orang yang sudah lama menantimu.. Ga lagi cuma bisa meraba dede, tapi juga bisa mengusap, memainkan jari jemari dede yang mungil, melihat tawanya dede, dan bangunin ayah sama-sama :D

In the last week of his present in me, every second feel so precious and I just want he feels cozy in his "first room". Dan selama ini, dia telah mengajarkanku banyak hal.

Ya Allah, berilah kemudahan dan kekuatanMu..amiiin

Sunday, January 18, 2009

A Month Being Pregnant

As you can see from the title.. YUP, Im pregnant! Hahaha..
Alhamdulillah...
Cepet ya? gapapa.. Biar berasa jadi mantu yang baik. Masa, udah ga bisa masak, ga bisa bangun pagi, ngasih cucu juga ga bisa. Hihihi.

Pengalaman trimester pertama, agak berat juga ya. Ga boleh jalan2, padahal gw kan ga betah diem aja dirumah. Kemana2 harus naik mobil (mobil dalam arti harfiah, angkot juga boleh), ga boleh naik motor, ojek, bajaj. Tapi, kalo pun pergi ternyata gw juga ga kuat lama2, jauh2, soalnya masih sering eneq. Mual2. Jadi, dilarang ga dilarang sih emang udah terbatas kapasitas bepergiannya. Maksimal 50 KB per hari :p

Slain mual2 dan gampang cape, kadang jadi emosian. Pernah suatu malam, ga tau knapa rasanya pengen nangis. Rada sensitif juga sama mertua, hehe.. maap, Mam. Tapi, diluar itu semua, my world is better. Mr. Indra makin sayang dan perhatian, dianter jemput kemana2 euy. Mertua yang padang totok ampe bikinin gw sayur asem! Dasyat kan tu..

Pregnant is wonderfull :D